indisje partij

Posted: Maret 29, 2010 in Uncategorized

Pada saat menginjak
abad 20 ,sistem kolonial di Indonesia
banyak sekali mengalami perkembangan baik di bidang politik, ekonomi, dan
sosial budaya. Hal ini juga secara langsung mempengaruhi  bangsa Indonesia. Sejak adanya politik
etis pada awal tahun 1900 yang dicetuskan oleh Conrad Theodore Van Deventer,
banyak sekali lahir golongan elit terpelajar di Indonesia. Politik etis merupakan
bentuk politik balas budi pemerintah Belanda terhadap bangsa Indonesia yang telah dipolitisasi. Berkat
politik etis, bangsa Indonesia
dapat memperoleh pendidikan / edukasi sehingga dicapai kesadaran
emansipasif  bangsa.Karena banyaknya kaum terpelajar
yang ada ,maka seiring waktu lahirlah organisasi-organisasi yang bergerak di
berbagai bidang, baik politik maupun bidang lainnya yang mengarah kepada
kemerdekaan negara Indonesia.
Hal-hal tersebut adalah waktu di mana perjuangan mencapai Indonesia merdeka dimulai.
Pergerakan nasionalisme Indonesia
dipengaruhi oleh adanya kaum terpelajar yang telah banyak bergaul dengan bangsa
luar sehingga membuka mata mereka tentang kesadaran akan perasaan senasib
sepenanggungan sebagai satu bangsa yang memiliki hak untuk menentukan arah
hidupnya sendiri (self-determination).Budi Utomo adalah organisasi pertama
yang berdiri di Indonesia.
Namun, keanggotaan dalam Budi Utomo masihlah terbatas dan belum ada
tanda-tanda perjuangan kemerdekaan.25 Desember 1912, berdirilah sebuah
partai politik pertama di Indonesia.
Partai ini adalah partai yang secara terang-terangan memiliki tujuan untuk
mencapai kemerdekaan bagi Indonesia.
Ini adalah salah satu perwujudan dari adanya rasa nasionalisme anak-anak bangsa
untuk menuntun ke arah kemerdekaan dan juga menggerakan bangsa agar sadar untuk
bersatu demi kemerdekaan. Partai inilah yang mengawali politik anak bangsa
meski salah satu pendirinya adalah seorang Indo. Partai ini adalah
Indische Partij. Indiche Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda. Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu Douwes Dekker, Tjipto
Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Melalui partai ini,Ernest Douwes Dekker mendesak pemerintah untuk mengubah garis
kebijaksanaan yang ditempuh. Politik “Etis” yang dilaksanakan Belanda
sejak awal abad ke-20 dihantamnya. Seperti diketahui, garis “politik
etis” itu tidak lagi memperlakukan Hindia-Belanda sebagai daerah
eksploitasi, sapi perahan untuk kemakmuran negeri Belanda, tetapi dimaksudkan
untuk meningkatkan kehidupan masyarakat pribumi. Fokus politik ini adalah
edukasi- irigasi-transmigrasi-desentralisasi. Namun, Ernest Douwes Dekker
mengemukakan, bukan begitu caranya untuk menjaga agar Belanda tak kehilangan
tanah jajahannya. Menurutnya, yang diperlukan adalah pemerintahan sendiri,
self-rule, untuk penduduk Indië sendiri, karena merekalah yang lebih tahu dan
mengerti kepentingannya sendiri. Di sini untuk pertama kalinya disuarakan
gagasan untuk memerintah diri sendiri. Berbeda dengan perlawanan-perlawanan
terhadap Belanda sebelumnya yang ditujukan kepada restauration, mengembalikan Hindia
Belanda kepada kekuasaan tradisional, sekarang mulai dikumandangkan keinginan
untuk mandiri, mengurus dan menentukan nasib sendiri.Tulisan Ernest Douwes
Dekker semakin radikal dan dalam dekade kedua abad ke-20 masyarakat tanah
jajahan diajak untuk bergerak-Kameraden,
stookt de vuren! (Kawan-kawan, nyalakanlah api!).
Gagasan-gagasan demikian yang muncul dalam pers Hindia-Belanda mendapat
perhatian bukan hanya di kalangan kaum Indo, tetapi juga di kalangan pribumi
yang sudah mendapat pendidikan Barat dan menguasai bahasa Belanda, di antaranya
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Bersama kedua tokoh ini
Ernest Douwes Dekker mengadakan aksi antikolonial sehingga mereka sering
dianggap sebagai tiga serangkai. Dalam hubungan ini tiga serangkai memelopori
gerakan politik dengan resmi membentuk Indische Partij atau Partai Hindia.  Asas perjuangan Indiche Partij adalah
nasionalisme dan kooperatif. Semboyannya berbunyi : Indie los van Holland (Hindia bebas dari Holland) dan Indie voor Inders (Hindia untuk orang
Hindia). Keanggotaanya bersifat terbuka bagi semua orang tanpa pandang
bulu, dengan tujuan:
–       membangkitkan
rasa cinta tanah air Indonesia
–       membangun
kerja sama untuk kemajuan tanah air
–       mempersiapkan
tanah air bagi kehidupan bangsa yang merdeka
Propaganda
dilakukan di mana-mana bahkan ke seluruh Jawa
baik secara lisan maupun tertulis. Propaganda Indische Partij ini
disambut dengan antusias oleh orang-orang yang anti penjajah sehingga partai
ini sudah memiliki 30 cabang di seluruh Jawa. Para pemimpin Indische Partij
berusaha mendaftarkan status badan hukum dari Indische Partij kepada pemerintah
kolonial Hindia Belanda melalui sidang parlemen tetapi pada tanggal 11 Maret
1913, penolakan dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg (wakil pemerintah Belanda di negara
jajahan). Alasan penolakkanya adalah karena organisasi ini dianggap oleh
pemerintah kolonial pada saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat
dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.Dalam tindak-tanduknya ,ketiga tokoh
pendiri partai ini sudah diperhatikan oleh pemerintah Belanda. Tindakan-tindakan
ini mulai nyata pada 21 Maret -23 Maret 1913 , ketika Belanda akan merayakan
upacara peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis (Napoleon) dengan menggunakan pungutan dana dari
Hindia Belanda. Melalui majalah De Express, Suwardi Suryaningrat menulis sebuah
artikel  yang mengkritik pemerintah
Belanda dengan judul  “Als ik eens
Nederlander was” (Jika Aku Seorang Belanda). Berikut
kutipannya “………Sekiranya
aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan
pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas
kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi
juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan
itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan
sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin
itu! Kalau aku seorang Belanda, apa yang menyinggung perasaanku dan
kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa
inlander diharuskan ikut mengkongsi
suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun . Seandainya
aku seorang Belanda, aku protes peringatan yang akan diadakan itu.Aku akan
peringatkan kawan-kawan penjajah ,bahwa sesungguhnya sangat berbahaya pada saat
itu mengadakan perayaan peringatan kemerdekaan. Aku akan peringatkan semua
bangsa Belanda jangan menyinggung peradaban bangsa Indonesia yang baru bangun
dan menjadi berani.Sungguh aku akan protes sekeras-kerasnya……..”Akibat dari tindakan yang radikal
melalui artikel tersebut ,pemerintah Belanda dibuat resah dan pada tanggal 31
Maret 1913 , tiga serangkai diasingkan (diinternir). Douwes Dekker dibuang ke
Timor (Kupang).Tjipto Mangunkusumo dibuang ke Banda sedangkan Suwardi
Suryaningrat dibuang ke Bangka. Tidak lama kemudian mereka dieksternir
(diasingkan) ke Belanda, namun pada tahun 1914 ,Cipto Mangunkusumo diizinkan
kembali karena masalah kesehatan. Pada tahun 1917 Douwes Dekker dibebaskan dari
hukuman dan Suwardi Suryaningrat pada tahun 1918 ,lalu kembali ke Indonesia.Bersamaan dengan waktu pengasingan 3
serangkai dimulai, pemerintah Hindia Belanda telah membubarkan Indische Partij.
Partai ini sudah dilarang karena sikapnya yang radikal untuk menuntut
kemerdekaan ,namun perjuangan masih terus berlanjut. Sebagian besar anggotanya
berkumpul lagi dalam Serikat Insulinde dan Comite Boemi Poetra. Pengalaman di pengasingan atau
dibuang tidak membuat tokoh-tokoh 3 serangkai jera dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s